Apa yang akan terjadi usai Trump batalkan pertemuan dengan Kim Jong-un?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat dunia terkejut ketika membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un 18 hari sebelum hari bersejarah itu akan terjadi di Singapura.
Keputusan itu membuat Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bingung. Namun Korut mengatakan mereka masih bersedia bertemu Trump kapan pun diperlukan dengan 'hati lapang dan terbuka'.
Sejumlah pengamat masih meyakini pertemuan kedua pemimpin itu akan terjadi.
Setelah membuat dunia tercengang dengan keputusannya, kemarin Trump menyatakan pertemuan 12 Juni itu masih mungkin terjadi.
"Kita akan lihat apa yang akan terjadi. Kami sedang bicara dengan mereka (Korea Utara) saat ini. Malah masih mungkin di 12 Juni. Kami ingin melakukannya," ujar Trump kepada para wartawan.
Sikap Trump itu terkesan mencla-mencle. China yang sebelumnya dianggap mempengaruhi Korut untuk membatalkan pertemuan juga kemarin mengatakan mereka tetap akan mendorong berlangsungnya pertemuan itu.
"Pertemuan itu masih menjadi isu penting," ujar John Nilsson-Wright, peneliti senior kawasan Asia Pasifik di lembaga pengamat Chatham House London.
"Ada banyak alasan untuk tetap melangsungkan pertemuan tapi mereka harus menyiapkan itu dengan banyak perincian dan persiapan dan itu butuh waktu," kata Nilsson-Wright.
Jenderal Vincent Brooks, komandan pasukan AS di Korea mengatakan pembatalan Trump itu menjadi ganjalan bagi kedua negara.
"Saya tidak khawatir soal kesempatan yang hilang. Ini hanya menjadi tertunda," kata dia dalam sebuah seminar di Seoul, seperti dikutip kantor berita Yonhap. "Tak usah khawatir tentang apa yang terjadi karena ini mungkin terlalu tergesa untuk merayakannya, sekaligus terlalu cepat untuk menyerah. Jangan pernah menyerah."
Sejumlah foto dirilis kantor kepresidenan Korsel memperlihatkan wajah muram Moon ketika dia bertemu dengan para penasehatnya kemarin. Moon dinilai sebagai sosok yang berhasil membuat situasi Semenanjung Korea menjadi bersahabat dan bisa membujuk Kim untuk melunak dan bertemu dengan Trump.
Meski begitu, menurut mantan juru runding Korsel dalam isu nuklir, Chun Yung-woo, Moon boleh jadi terlalu tergesa menyampaikan misinya ketika dia bertemu Trump Rabu lalu.
"Dia terlalu yakin dengan niat Korut dalam isu denuklirisasi dan terlalu menggembar-gemborkannya ke Washington," kata Chun. "Anda bisa sakit kalau makan makanan belum matang."
Tapi tampaknya Moon tidak akan menyerah untuk mempertemukan Trump dan Kim.
"Moon menganggap ini adalah misinya," ujar peneliti dari Institut Sejong, Lee Seong-hyon.
"Tapi pertanyaannya sekarang adalah apakah Trump masih punya selera untuk pertemuan. Masih belum jelas apakah dia punya visi strategis dalam isu ini," kata Nilsson-Wright.






No comments